Menghafal Al-Qur'an hukumnya fardhu kifayah, adapun muraja’ah adalah fardhu ‘ain bagi para penghafal Al-Qur'an. Agar hafalan Al-Quran cepat lancar & tidak mudah lupa maka kewajibalah seseorang yang menghapal untuk muraja’ah.
Hal yang diperhatikan dalam menghapal ialah Muraja'ah, sehingga tidak tepat jika seseorang hanya menghapal saja tanpa Muraja'ah. Berikut daftar Muraja'ah yang bisa dilakukan :
Berikut ini ruincian muraja'ah dari hafalan yg telah dihafalkan:
5 juz perhari dibagi tiap juz setelah shalat fardhu
10 Juz perhari dibagi tiap 2 juz setelah shalat fardhu
15 Juz perhari dibagi tiap 3 juz setelah shalat fardhu
20 juz perhari dibagi tiap 4 juz setelah shalat fardhu
30 Juz perhari dibagi tiap 6 juz setelah shalat fardhu 6 juz setelah shalat fardhu
Nampak terlihat berat, tetapi ketika terbiasa melakukannya muraja'ah yang dilakukan terasa mudah. Selain itu pelru diperhatikan untuk mengulang hapalan yang belum kuat. Ini bisa dilakukan dengan cara :
1. Muraja'ah menggunakan cara membaca Al-Quran & mengingat bentuk tulisannya sebagai akibatnya dalam ketika ayat telah lancar maka yg teringat merupakan tulisannya pada pada pikiran. Ini pada metode Yadain melalui media digital
2. Muraja'ah menggunakan cara menuliskan ulang aya-tayat yg telah dihafalkan lalu mengoreksi goresan pena tadi supaya bisa diperbaiki lagi sampai lancar.
3. Muraja'ah menggunakan pemaknaan terjemahan, caranya yaitu menggunakan melihat terjemah perkata & terjemah tafsiriyahnya menurut Al-Qur'an versi Kementerian Agama Republik Indonesia.
4. Membaca buku-buku afsir & mengkorelasi antara hafalan menggunakan pemahaman terhadap kitab tafsir dan terjemahnya.
5. Belajar AlQuran, terjemah, tafsir kepada orang yang pakar dibidangnya.
Setelah melakukan berbagai upaya, maka manusia tidak perlu khawatir terhadap hasilnya, karena usaha optimat tidak akan menghianati hasil yang didapatkan. Sehingga perlu diperhatikan hal-hal yang kecil namun menjadi tolak ukur keberhasilan dari Muraja'ah yakni :
1. Tidak Ada Penundaan Terhadap Murajaah
Penundaan terhadap murajaah menciptakan proses murajaah mengakibatkan tidak konsisten terhadpa apa yang telah direncanakan. Jika murajaah telah dilakukan terus menerus maka akan sebagai norma yg rutin tanpa beban pikiran. Murajaah rutin bisa dilakukan apabila kegiatan-kegiatan lainnya dilakukan secara rutin juga. Misalnya terdapat kepastian kapan jadwal tidur, jadwal bekerja, jadwal ibadah, jadwal memasak, jadwal bersantai beserta keluarga, jadwal hubungan via gadget, jadwal belajar Al-Qur'an & sebagainya.
Pelanggaran terhadap jadwal rutinitas kehidupan niscaya akan berpengaruh terhadap kegiatan lainnya. Oleh karenanya, skala prioritas menghafal Al-Qur'an&Muraja'ah hafalan AlQuran perlu diutamakan supaya hafalan Al-Qur'an sebagai semakin berkualitas.
2. Memiliki waktu-waktu khusus
waktu khusus penting dimiliki untuk dapat fokus terhadap muraja'ah yang dilakukan bisa dengan memiliki tempat, ruang ataupun waktu khusu. Contohnya muraja’ah pada masjid dalam ketika sebelum & selesainya shalat wajib; muraja’ah pada kamar dalam ketika menjelang tidur malam; muraja’ah pada ruang tengah dalam ketika hubungan belajar mengajar AlQuran beserta keluarga; muraja’ah dalam ketika tahajud pada saat 1/3 akhir malam, & sebagainya.
3. Disiplin & Sanksi Jika Tidak Muraja’ah
Murajaah hafalan Al-Qur'an dibutuhkan perilaku disiplin & terus menerus. Oleh karenanya, bila kewajiban murajaah dilanggar maka perlu diganti dalam keesokan harinya sebagai akibatnya dobel & permanen dilakukan sinkron menggunakan sasaran yg sudah ditentukan.
4. Meningkatkan Intensitas Murajaah
Setiap page ayat-ayat Al-Qur'an mempunyai karakter yg berbeda. Ada ayat yg mudah, cepat dihafalkan & terdapat ayat yg memerlukan saat tambahan buat melancarkannya. Oleh karenanya intensitas murajaah perlu dibubuhi supaya sasaran durasi & sasaran pencapaian hafalan mampu samasama terlaksana. Menambah jam belajar buat ayat dalam page eksklusif adalah keputusan yg bijaksana & menjalankan mengikuti keadaan menggunakan kegiatan lainnya.
5. Berdzikir menggunakan Hafalan Al-Qur'an
Hafalan Al-Qur'anbisa dijadikan menjadi wahana berdzikir pada Allah SWT. Jika sedang duduk, berdiri, berjalan, berkendara, sendirian maka mampu dipakai menjadi saat yg berkah menggunakan bacaan Al-Qur'an.
6. Rutinitas Bacaan Hafalan
Selain muraja’ah hafalan Al-Qur'an tanpa melihat mushaf jua hendaknya rajin membaca Al-Qur'an buat hafalan yg telah dihafalkan & ayat yg belum dihafalkan. Hal ini relatif membantu sosialisasi huruf-huruf Al-Qur'an supaya waktu Al-Qur'an dihafalkan maka susunan ayat, bentuk penulisan, telah sanggup menguatkan & memudahkan hafalan Al-Qur'an.
7. Menyetorkan HafalanAl-Qur'an Kepada Orang yg Lebih Mahir
Hafalan Al-Qur'an buat hafalan baru perlu disimak sang orang yg lebih pakar. Adapun Muraja'ah buat melancarkan hafalan Al-Qur'an adalah tanggungjawab masingmasing pribadi. Tetapi demikian supaya hafalan murajaah ini terjaga kualitasnya maka perlu disimak jua sang orang yg lebih pakar mampu sang sahabat juga pengajar tahfizh Al-Qur'an.
0 Komentar